Berita Terbaru :

Fakta dan Mitos Emiria Soenassa

Emiria Soenassa tidak hanya meninggalkan lukisan, tetapi juga mitos tentang kehidupannya yang misterius. Kini 46 tahun sesudah kepergiannya, lukisan dan kisah hidup Emiria ditampilkan kembali dalam pameran bertajuk "Masa Lalu Selalu Aktual".
Pameran yang berlangsung pada 22-30 Oktober di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) ini menampilkan 28 lukisan Emiria. Sebagian besar lukisan yang dibuat antara tahun 1940-an hingga 1950-an tersebut merupakan koleksi keluarga Waworuntu.
Emiria melukis banyak tema. Dari karya-karya yang dipamerkan, ia melukis berbagai orang dari berbagai pulau di Indonesia modern, termasuk aktivitas mereka.
Ia melukis pematung Bali hingga pria Papua, dari perempuan Bali hingga perempuan Sulawesi lengkap dengan penanda khas mereka berupa pakaian ataupun penutup kepala. Ia juga melukis aneka bunga, dari lili, krisan, hingga flamboyan. Dengan cara itu, ia dinilai telah meletakkan visi keberagaman yang sekarang mengikat Indonesia modern.
Pada tulisan dalam katalog pameran, Hermanu selaku pengelola BBY mengatakan, Emiria adalah pionir pelukis perempuan Indonesia. Ia tercatat sebagai salah satu anggota Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) yang dimotori Sudjojono dan Affandi.
Karya-karyanya bergaya naif. Cenderung primitif. Ia melukis obyek dengan bebas tanpa beban norma-norma seni lukis saat itu. Ia melukis spontan menggunakan kuas dan goresan besar. Ia juga jarang mengolah warna menjadi sekunder maupun tersier.
Dengan karya-karya itu, ia langsung berhadapan dengan pelukis- pelukis gaya Mooi Indie. Ia banyak dikritik pedas. Namun, ia konsisten dengan gaya melukis yang dipilihnya hingga akhir hayatnya.
Tak dikenal
Sebagai salah satu sosok penting dalam sejarah perkembangan seni lukis modern Indonesia, karya-karya Emiria merupakan koleksi sangat berharga. Meski begitu, riwayat hidupnya tak banyak disinggung seperti ketika orang menyebut anggota Persagi lain.
Lahir tahun 1891, Emiria mencicipi kehidupan di bawah kolonial Belanda, Jepang, hingga Indonesia merdeka.
Kehidupan pribadinya terselubung misteri. Sejumlah sumber yang dikutip Hermanu menyatakan, ia lahir sebagai Emiria Emma Wihelmina Pareira. Ada yang menyebutnya sebagai putri Sultan Tidore.
Selama hidupnya, ia terlibat dalam berbagai kegiatan. Ia aktif di Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi. Ia juga sadar politik, terbukti dengan kehadirannya di Konferensi Meja Bundar (KMB) di New York tahun 1949. Pada konferensi itu, ia berperan sebagai pemimpin simbolis rakyat Papua Niugini Belanda yang sekarang menjadi Papua.
Sebelum memasuki dunia seni, di awal tahun 1930-an ia adalah suster, sekretaris, dan administrator. Ia bepergian ke banyak tempat, mulai dari pulau-pulau di Indonesia hingga Eropa. Ia melukis otodidak dan mulai melukis serius setelah berusia 40 tahun.
Emiria adalah penyendiri. Di akhir 1950-an, ia menghilang tanpa jejak. Kepergiannya yang misterius itu menciptakan banyak pertanyaan, dan akhirnya memunculkan spekulasi.
Kolektor seni Oei Hong Djien yang memiliki dua koleksi lukisan Emiria pun sempat termakan spekulasi semacam itu. Kepada setiap tamu, ia memamerkan karya Emiria dengan memberi sedikit penjelasan. "Saya bilang, Emiria itu pelukis misterius, ia menghilang di Papua dan entah di makan buaya atau apa. Baru dalam pameran ini saya tahu kalau ternyata ia meninggal dengan alami," katanya saat berbicara di acara pembukaan pameran.
Emiria meninggal di Lampung tahun 1964. Ia menitipkan karya- karyanya kepada Jane Waworuntu. Karya-karya yang selama 30 tahun tersembunyi itu kini membuka diri pada publik. (IDHA SARASWATISumber: Berita Budaya Fakta dan Mitos Emiria Soenassa Rating: 5.0 Reviewer: Author ItemReviewed: Fakta dan Mitos Emiria Soenassa

0 comments:

Poskan Komentar

Facebook  Twitter  Google+  RSS Feed

Masukkan Email Anda:

Delivered by FeedBurner

 

© Copyright Blog Portal Indonesia | Si Toger 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.